8.11.2012

makalah parasitologi 1


MAKALAH
NEMATODA JARINGAN DAN MALARIA
Di ajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Parasitologi 1



Di Susun oleh :
Emalia Sriwahyuni
Guna Cakra S.
Novi Rahmawati
Rudi Hidayat
Sri Mulya Rahayu

D3 Analis Kesehatan
STIKes BAKTI TUNAS HUSADA
Jln. Cilolohan No. 36 (0265)334740
TASIKMALAYA 4611


 
KATA PENGANTAR
            Alunan pujian dalam untaian syukur kehadirat Allah Subhanahu Wata’ala yang senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah Parasitologi 1 Nematoda Jaringan dan Malaria sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
            Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas untuk memenuhi nilai mata kuliah Parasitologi 1
            Dalam proses penyelesaian makalah ini, penulis banyak sekali memperoleh bantuan berupa bimbingan, saran serta motivasi baik dalam bentuk moril maupun materil, baik langsung maupun tidak langsung. Untuk itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga selesainya makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna yang dikarenakan keterbatasan kemampuan yang ada dalam diri penulis. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun penulis harapkan bagi penyusunan-penyusunan berikutnya.
Akhir kata semoga makalah ini bermanfaat, khususnya bagi penulis sendiri, umumnya bagi para pembaca
Tasikmalaya,April 2012


                                       Penyusun


DAFTAR ISI
Kata Pengantar..................................................................................................... i
Daftar Isi.............................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
1. LatarBelakang..................................................................................... 1
1.2 RumusanMasalah.............................................................................. 1
1.3 Tujuan............................................................................................... 2
BAB IIPEMBAHASAN
2.1 Pengertian Nematoda Jaringan..................................................................... 3
2.2 Jenis-jenis Nematoda jaringan....................................................................... 4
2.2.1. Wuchereria bancrofti .................................................................... 4
2.2.2 Brugia malayi ................................................................................ 11
2.2.3 Brugia timori ................................................................................. 14
2.2.4 Loa-loa .......................................................................................... 15
2.2.5 Onchocerca volvulus ..................................................................... 21
2.2.6 Trichinella spiralis (Cacing Otot) .................................................. 24
            2.2.7 Mansonella ozzardi ....................................................................... 26
2.2.8 Dracunculus medinensis................................................................. 28

2.3 Pengertian Malaria........................................................................................ 33
2.3.1 Jenis Plasmodium........................................................................... 34
            2.3.2 Proses Kehidupan Plasmodium...................................................... 34
            2.3.3 SiklusHidup Plasmodium PadaTubuhManusia.............................. 38
            2.3.4 Jenis Malaria................................................................................... 39
            2.3.5 Gejala malaria................................................................................. 40
            2.3.6 Pengobatan Malaria........................................................................ 43
            2.3.7 Pencegahan Malaria....................................................................... 45
BAB 3 PENUTUP.............................................................................................. 47
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Nematoda adalah hewan multiseluler yang paling banyak jumlahnya di bumi dan terdapat hampir di seluruh habitat dan beberapa juga terdapat di tempat yang tidak biasa seperti sumber mata air panas, es, laut dalam, dan lingkungan berasam dan dengan kadar oksigen rendah. Kelimpahannya mencapai jutaan individu per m2 tanah pada tanah dan sedimen dasar perairan.
Nematoda memiliki fungsi yang sangat penting dalam menjaga kelestarian tanah, salah satunya adalah sebagai dekomposisi material racun atau secara istilah disebut bioremediasi. Nilai nematoda sebagai bioremediasi tanah ini sangatlah penting. Jika dihitung dengan rupiah maka akan didapatkan seberapa pentingnya hewan kecil ini bagi tanah dan tentunya bagi manusia.
Nematoda Darah/Jaringan Tubuh Manusia dan Hewan
Nematoda darah atau dikenal sebagai Nematoda filaria, menyebabkan penyakit kaki gajah atau elefantiasis/filariasis. Di Indonesia terdapat 3 spesies cacing ini yang dikenal juga sebagai cacing filaria limfatik, sebab habitat cacing dewasa adalah di dalam sistem limfe (saluran dan kelenjar limfe) manusia yang menjadi hospes definitifnya, maupun dalam sistem limfe hewan yang menjadi hospes reservoar (kera dan kucing hutan). Spesies cacing filaria yang ada di Indonesia adalah: Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Cacing filaria ini ditularkan melalui gigitan nyamuk yang menjadi vektomya.
Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh protozoa yang disebut plasmodium, yang dalam salah satu tahap perkembang biakannya akan memasuki dan menghancurkan sel-sel darah merah. Plasmodium yang menyebarkan penyakit malaria berasal dari spesies plasmodium falciparum dan plasmodium vivax, plasmodium ovale, plasmodium malariae, dan plasmodium knowlesi.

1.2 Rumusan Masalah
Ø  Apa yang dimaksud dengan nematoda jaringan?
Ø  Apa saja jenis-jenis nematoda jaringan?
Ø  Apa yang dimaksud dengan penyakit malaria?

1.3 Tujuan
Ø  Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan nematoda jaringan.
Ø  Untuk mengetahui jenis-jenis nematoda jaringan.
Ø  Untuk mengetahui tentang penyakit malaria.



  BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Nematoda Jaringan
Nematoda Darah/Jaringan Tubuh Manusia dan Hewan
Nematoda darah atau dikenal sebagai Nematoda filaria, menyebabkan penyakit kaki gajah atau elefantiasis/filariasis. Di Indonesia terdapat 3 spesies cacing ini yang dikenal juga sebagai cacing filaria limfatik, sebab habitat cacing dewasa adalah di dalam sistem limfe (saluran dan kelenjar limfe) manusia yang menjadi hospes definitifnya, maupun dalam sistem limfe hewan yang menjadi hospes reservoar (kera dan kucing hutan). Spesies cacing filaria yang ada di Indonesia adalah: Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Cacing filaria ini ditularkan melalui gigitan nyamuk yang menjadi vektomya. Filariasis bancrofti mempunyai 2 tipe, yaitu: 1.Tipe urban, atau terdapat di daerah perkotaan, vektornya nyamuk Culex quenquefasciatus/C. fatigans. 2.Tipe rural, vektornya nyamuk Anopheles atau nyamuk Aedes tergantung pada daerahnya. Periodisitasnya adalah periodik nokturna, di mana mikrofilaria banyak ditemukan dalam darah tepi penderita pada waktu malam hari.
Filariasis malayi lebih banyak terjadi di daerah rural, vektornya adalah nyamuk Mansonia yang tempat perindukannya di rawa-rawa dekat hutan dan beberapa jenis dari nyamuk Anopheles dapat pula menjadi vektor penyakit ini. Perbedaan nyamuk yang menjadi vektornya tergantung pada daerah geografis. Periodisitas filariasis malayi adalah subperiodik nokturna, artinya mikrofilaria dapat ditemukan dalam darah tepi penderita pada waktu siang dan malam hari, meskipun jumlahnya lebih banyak pada malam hari. Bila mikrofilaria dalam darah tepi penderita masuk ke dalam tubuh nyamuk vektor pada waktu nyamuk rnengisap darah, maka akan berubah menjadi larva stadium I-III (L1-L2-L3). L3 bila nyamuk mengisap darah manusia akan terbawa masuk ke dalam tubuh dan menuju saluran limfe serta menjadi dewasa dalam kelenjar limfe. Gejala utama filariasis adalah: limfangitis, limfadenitis, limfedema, yang bisa terjadi berulang-ulang sampai akhimya bila sudah kronis (bertahun-tahun) akan terjadi elefantiasis. Pada infeksi W. bancrofti biasa menyerang ekstremitas bagian atas, alat genital, yang bisa menimbulkan hidrokel dan juga buah dada, namun juga bisa menyerang kaki. Filariasis malayi lebih banyak menyerang bagian kaki.
Diagnosis dengan menemukan mikrofilaria dalam darah tepi penderita, tergantung periodisitasnya maka biasanya pemeriksaan dilakukan pada malam hari untuk menemukan mikrofilarianya. Lalu sediaan darah dicat dengan Giemsa, sehingga dapat dilihat perbedaan bentuk mf-nya untuk menentukan spesiesnya. Pengobatan filariasis sampai saat ini yang efektif adalah pemberian DEC (dietil karbamasin). Pencegahan terutama menjaga diri agar tidak digigit nyamuk, dengan memakai kelambu waktu tidur atau menggunakan repelen. Membasmi tempat perindukan nyamuk vektor, namun untuk yang habitatnya di rawa-rawa akan sulit dilakukan. Nematoda jaringan adalah beberapa spesies cacing Nematoda yang hospes yang definitifnya hewan, di mana cacing dewasa hidup dalam usus halus hewan tersebut. Bentuk larvanya yang menginfeksi jaringan tubuh manusia dan menimbulkan masalah penyakit. Tiga jenis cacing tersebut adalah: Trichinella spiralis yang hospes definitifnya adalah babi dan hewan lain (tikus, beruang, anjing liar dll), juga manusia. Habitat cacing dewasa dalam usus halus hospes. Manusia terinfeksi karena makan daging babi yang mengandung sista yang berisi larva di dalamnya. Daging tersebut bila dimakan tanpa dimasak dengan baik, maka larva akan menetas dalam usus dan menjadi dewasa. Cacing betina yang bersifat vivipar, menghasilkan larva yang akan menembus mukosa usus terbawa aliran darah sampai ke jaringan otot dan menyebabkan trikhinosis.

2.2 Jenis-jenis Nematoda jaringan
2.2.1. Wuchereria bancrofti (filaria Bancrofti / Bancrofts Filaria)
a.       Penyakit : Filariasis bancrofti, Wuchereriasis, Elephantiasis
b.      Distribusi Geografis : Parasit ini tersebar di daerah tropis dan subtropis, ke Utara sampai ke Spanyol, ke Selatan sampai ke Australia, Afrika,Asia, Jepang, Taiwan, Philiphina, Indonesia dan Kepulauan Pasifik Selatan.
c.       Habitat : Bentuk dewasa ditemukan di saluran dan kelenjar lymphe manusia.
d.      Vector : Nyamuk (Culex, Aedes, Anopheles)
1.Morfologi
Cacing dewasa: berbentuk memanjang seperti rambut (hair like), warna transparans, bentuk filariform dengan ujung meruncing sedikit demi sedikit. Cacing jantan dan betina didapatkan saling melingkar di dalam habitatnya dan sukar untuk dilepaskan.
Jantan : Ukuran 25-40 X 0,1 mm, bagian posterior melengkung ke ventral dan mempunyai spiculae
Betina : Ukuran 80-100 X 0,25 mm.
Life span : kurang lebih 5-10 tahun.
2.Mikrofilaria
Setelah dilahirkan oleh induknya dalam saluran lymphe, mereka akan menemukan jalannya menuju saluran lymphe utama dan akhirnya berada dalam aliran darah tepi. Morfologi mikrofilaria dapat diamati dengan baik dengan mengambil darah penderita, dan dibuat sediaan tetes tebal yang diwarnai dengan Wright/Giemsa. Pada sediaan yang baik akan terlihat mikrofilaria sebagai suatu bentukan silinder memanjang.
Ciri-ciri khas dari mikrofilaria Wuchereria bancrofti sbb :
·         Ukuran kurang lebih 290 X 6 mikron
·         Terbungkus oleh suatu selaput hialin (hyaline sheath), tetapi pada pengecatan dengan Giemsa
·         sheath ini jarang nampak dan hanya nampak pada pengecatan yang pekat.
·         Curva tubuhnya halus dan tak mempunyai lekukan tubuh sekunder (secondary kink negatif)
·         Tubuhhya terisi oleh body nuclei yang tersebar merata, nampak seolah-olah teratur.
·         Pada ujung anterior terdapat bagian yang bebas dari body nuclei, disebut cephalic space yang
·         ukuran panjangnya kurang lebih sama dengan lebarnya (Cephalic space ratio 1 : 1).
·         Ujung posterior tidak mengandung body nuclei (Terminal nuclei negatif)
3. Siklus hidup

http://2.bp.blogspot.com/-CRxlmvXRpQU/TeHktJaKaNI/AAAAAAAACLw/Y2__p3MTSzw/s320/siklus+hidup+filaria+W.bancrofti.bmp
Siklus hidup W. bancrofti sumber www.dpd.cdc.gov/dpdx

Wuchereria bancrofti mempunyai 2 host yaitu :
1. Dalam Tubuh Manusia (Definitif host)
Cacing dewasa berada dalam saluran dan kelenjar lymphe, setelah kawin cacing betina akan melahirkan mikrofilaria (ovo vivipar) sesuai dengan sifat periodisitasnya mikrofilaria-mikrofilaria tersebut akan berada di darah tepi . Bila kebetulan ada nyamuk yang sesuai menggigit penderita tersebut, maka mikrofilaria akan ikut terhisap bersama darah penderita dan masuk ke tubuh nyamuk. Didalam tubuh manusia mikrofilaria dapat bertahan hidup lama tanpa mengalami perubahan bentuk.
2. Dalam Tubuh Intermediate host
Nyamuk yang berperan sebagai vektor biologis/hospes perantaraan untuk Wuchereria bancrofti adalah dari genus : Culex, Anopheles,Aedes. Mikrofilaria yang terhisap masuk pada saat terjadinya gigitan, sesampai di lambung nyamuk akan melepaskan sheathmya. Dalam waktu 1-2 jam kemudian ia menembus dinding usus nyamuk menuju ke otot-otot thorax untuk mengadakan metamorfosis. Dalam waktu kurang lebih 2 hari mikrofilaria akan tumbuh menjadi larva stadium I (l24-250 mikron X 10-17 mikron) dan 3-7 hari kemudian menjadi larva stadium II yang panjangnya (225-330 mikron dan lebar 15-30 mikron) dan pada hari ke 10-11 pertumbuhan larva dapat dikatakan telah lengkap menjadi larva stadium III dengan ukuran panjang 1500-2000 mikron dan lebarnya 18-23 mikron), yaitu stadium yang infektif untuk manusia. Larva tersebut bermigrasi ke kelenjar ludah (proboscis). dan siap untuk ditularkan bila nyamuk tersebut menggigit manusialagi.
4.Cara Infeksi
·         Melalui inokulasi (gigitan) nyamuk betina. (Culex, Aedes, Anopheles), di India dan China : Culex fatigans, di Kepulauan Pasific : Anopheles punctulatus
·         Bentuk infektif untuk manusia larva stadium III
·         Portal of entry : kulit
5.Habitat
System lymphatic dari extremitas superior atau inferior, hal ini tergantung dari lokasi gigitan. Kebanyakan di regio Inguino-scrotal.
6.Pathogenesis
Effect pathogen yang nampak pada Wuchereria dapat disebabkan oleh bentuk dewasa baik yang hidup maupun yang mati. Bentuk dewasa atau larva yang sedang tumbuh dapat menyebabkan kelainan berupa reaksi inflamasi dan system lympatic. Sedangkan bentuk microfilarianya yang hidup didalam darah belum diketahui apakah menghasilkan product-product yang bersifat pathogen, kecuali pada accult filariasis.
Hasil metabolisme dari larva Wuchereria yang sedang tumbuh menjadi dewasa pada individu yang sensitif dapat menyebabkan reaksi allergi seperti: urticaria, "fugitive swelling". (pembengkakan, nyeri, pembengkakan pada kulit extremitas) dan pembengkakan kelenjar lymphe. Gejala ini dapat timbul awal dalam waktu beberapa bulan (kurang lebih 3 1/2 bulan) setelah penularan. Pemeriksaan darah tepi untuk mencari mikrofilaria pada stadium ini biasanya negatif (gagal ditemukan), tetapi pada biopsi kelenjar lymphe setempat mungkin dapat ditemukan cacing Wuchereria bancrofti muda atau dewasa.
7.Gejala Klinis
Karena filariasis bancrofti dapat berlangsung selama beberapa tahun maka dapat terjadi gambaran klinis yang berbeda-beda. Reaksi pada manusia terhadap infeksi filaria berbeda dan beraneka ragam. Akibat infeksi yang disebabkan oleh filaria maka dapat diklasifikasi sbb :
1.      Bentuk dengan peradangan
2.      Bentuk dengan penyumbatan dan
3.      Bentuk tanpa gejala.
1. Bentuk dengan peradangan (Filariasis dengan peradangan)
Filariasis dengan peradangan merupakan fenomen alergi karena kepekaan terhadap bahan-bahan metabolit yang berasal dari larva yang sedang tumbuh dari cacing betina yang melahirkan mikrofilaria, atau dari cacing dewasa yang hidup dan yang mati. Dapat juga terjadi infeksi sekunder yang disebabkan oleh streptococcus atau oleh jamur. Lymphangitis dari anggota tutuh pembengkakan setempat dan kemerahan lengan dan tungkai merupakan gejala yang khas dari serangan yang berulang- ulang. Demam menggigil, sakit kepala, muntah dan kelemahan dapat menyertai serangan tersebut yang dapat berlangsung beberapa hari-minggu yang terutamaterkena ialah saluran limphe tungkai dan alat genital; dapat terjadi funiculitis, epididymitis, orchitis. Dapat terjadi leucocytosis sampai 10.000 dengan Eosinophyl 6-26%.
2. Bentuk penyumbatan (Filariasis dengan penyumbatan)
Penyumbatan dapat terjadi akibat perubahan dinding dan proliferasi endothel saluran lymphe karenaproses peradangan (obliterative endolymphangitis) juga karena fibrosis kelenjar lymphe dan jaringan ikat sekitarnya akibat keradangan yang berulang-ulang atau dapat juga akibat efek mekanis misalnya penyumbatan oleh cacing dewasa pada lumen pembuluh lymphe. Penyumbatan pada filariasisterjadinya perlahan-lahan biasanya setelah terkena infeksi filaria selama bertahun-tahun. Akibat penyumbatan limfatik tersebut maka dapat terjadi pelebaran lumen dan menurunnya elastisitas pembuluh lymphe, disebut lymp varix. Dapat juga timbul kebocoran dinding pembuluh lymphe yang menyebabkan cairan lymphe keluar dari lumen; hidrocele, chyluria. Hypretrofi jaringan yang terkenaproses yang menahun menyebabkan penebalan jaringan sehingga bisa terjadi Elephanthiasis.
3. Bentuk tanpa gejala (Filariasis tanpa gejala)
Di daerah endemi, anak-anak mungkin terkena penyakit sejak umur muda, dan pada umur 6 tahun pada mereka telah dapat ditemukan mikrofilaria di dalam darah tanpa menimbulkan gejala yang menunjukkan adanya infeksi ini. Pada pemeriksaan tubuh tampak mikrofilaria dalam jumlah besar dan adanya eosinofil. Pada waktu cacing dewasa mati mikrofilaria menghilang tanpa penderita menyadari akan adanya infeksi.
8.Diagnose
Diagnosa filariasis ditegakkan berdasarkan atas :
·         Anamnese yang berhubungan dengan nyamuk didaerah endemi
·         Dari gejala klinis seperti tersebut diatas
·         Pemeriksaan laboratorium dengan melakukan pemeriksaan darah yang diambil pada waktumalam (terutama untuk yang bersifat xacternal periodicyty). Diagnosa pasti bila kita menemukan parasitnya. Perlu kiranya diketahui bahwa darah penderita dengan gejala filariasis tidak selalu ditemukan mikrofilaria.
Selain dengan pemeriksaan tersebut dapat juga dilakukan dengan :
Xeno Diagnosis yaitu Nyamuk yang steril digigitkan pada orang yang diduga menderita Wuchereriais, kemudian dilakukan pembedahan atau nyamuk-nyamuk tersebut dilumatkan untuk mencari mikrofilaria atau larva.
Metode yang lain adalah : Biopsi kelenjar: gambaran yang khas dari infeksi Wuchereriasis kelenjar sangat membantu.
Serologis : dapat dilakukan dengan tes kulit (skin test) maupun Complement Fixation Test, dengan menggunakan antigen yang berasal dari Dirofilaria immitis. Metode ini sangat membantu diagnosa terutama pada fase- fase permulaan.
Ada keadaan-keadaan tertentu dimana mikrofilaria tidak ditemukan pada pemeriksaan darah tepi penderita, yaitu:
 - Selama permulaan fase allergie
·         Setelah serangan limfangitis, karena cacing dewasa telah mati.
·         Pada kasus-kasus Elephanthiasis, karena sumbatan sistim limfatik sehingga
·         mikrofilaria tak dapat mencapai peredaran darah.
·         Pada Occult Filariasis.
9.Terapi :
Obat-obat Filarisida yang dapat dipakai antara lain :
1.      Diethyl Carbamazin (Hetrazan)
o    terutama untuk mikrofilarianya
o    dosis dan cara pemberiannya masih bervariasi
o    dosis standart yang dipakai adalah 2 mg/ kg berat badan 3 X sehari selama 7-14 hari
o    untuk mengurangi efek samping (sakit kepala,pusing, mausea, demam) pemberian obat dimulai
2.      dari dosis rendah, kemudian ditingkatkan secara bertahap
3.      Preparat Arsen ; Mel W, Mel B, untuk cacing dewasanya.
4.      Suramin
5.      Corticosteroid ; untuk mengurangi efek allergie
6.      Antibiotika: dapat dipakai pada limfangitis rekurens yang disebabkan oleh infeksi sekunder.
7.      Operasi


      
10.Pencegahan
Pencegahan Wuchereriasis di daerah endemis meliputi pemberantasan nyamuk dan mengobati penderita yang merupakan sumber infeksi. Perlindungan manusia dengan menutup ruangan dengan kawat kasa, memakai kelambu atau repelent.
2.2.2 Brugia Malayi
Lichentenstein dan Brug pertama diakui B. malayi sebagai patogen yang berbeda pada tahun 1927. Mereka melaporkan terjadinya suatu spesies filariae manusia di Sumatera Utara yang baik fisiologis dan morfologis berbeda dari W. bancrofti mikrofilaria umumnya ditemukan di Jakarta dan bernama patogen Filaria malayi. Namun demikian, meskipun studi epidemiologi mengidentifikasi malayi Filaria di India, Sri Lanka, Cina, Vietnam Utara, dan Malaysia pada tahun 1930-an, Lichentenstein dan's hipotesis Brug tidak diterima sampai 1940-an, ketika Rao dan Mapelstone diidentifikasi cacing dewasa di India.
Berdasarkan kesamaan dengan W. bancrofti, Rao dan Mapelstone diusulkan untuk menyebutnya parasit Wuchereria malayi Pada tahun 1960, bagaimanapun, Buckley diusulkan untuk membagi genus tua Wuchereria, ke dalam dua generasi, dan Brugia dan Wuchereria nama Filaria malayi Brugia malayi sebagai berisi. Wuchereria W. bancrofti, yang sejauh ini hanya ditemukan menginfeksi manusia, dan Brugia berisi B. genus malayi, yang menginfeksi manusia dan hewan, serta spesies zoonosis lainnya.
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Nematoda
Kelas: Secernentea
Order: Spirurida
Keluarga: Onchocercidae
Genus: Brugia

                       












1. Morfologi
·         Dewasa
Menyerupai cacing nematoda cacing gelang klasik. Panjang dan benang, B. dan lain nematoda malayi hanya memiliki otot longitudinal dan bergerak dalam S-bentuk gerakan sebuah. Orang dewasa biasanya lebih kecil dari dewasa W. bancrofti, meskipun beberapa orang dewasa telah diisolasi. cacing dewasa Wanita (50 μm) lebih besar dari cacing jantan (25 μm).
·         Mikrofilaria
Mikrofilaria B. malayi mempunyai panjang 200-275 μm dan bulat mengakhiri anterior dan posterior ujung runcing. mikrofilaria ini adalah berselubung, yang banyak noda dengan Giemsa. selubung ini sebenarnya kulit telur, lapisan tipis yang mengelilingi kulit telur sebagai mikrofilaria yang beredar dalam aliran darah. mikrofilaria yang mempertahankan sarungnya sampai dicerna dalam midgut nyamuk.
2.Gejala
     B. malayi adalah salah satu agen penyebab filariasis limfatik , suatu kondisi yang ditandai dengan infeksi dan pembengkakan dari sistem limfatik. Penyakit ini terutama disebabkan oleh adanya cacing dalam pembuluh limfatik dan respon host yang dihasilkan. Tanda-tanda infeksi biasanya konsisten dengan yang terlihat di bancroftian-filariasis demam, limfadenitis, lymphangitis, lymphedema, dan infeksi bakteri sekunder-dengan beberapa pengecualian.
3. Diagnosis Laboratorium
     Berdasarkan tes PCR sangat sensitif dan dapat digunakan untuk memantau infeksi baik pada manusia dan vektor nyamuk. Namun, tes PCR yang memakan waktu, tenaga kerja yang intensif dan membutuhkan peralatan laboratorium. Limfatik filariasis terutama mempengaruhi masyarakat miskin, yang tinggal di daerah tanpa sumber daya tersebut.
Kartu antigen uji ICT secara luas digunakan dalam diagnosis W. bancrofti, namun komersial antigen B. malayi belum tersedia secara luas historis. Namun, perkembangan penelitian terbaru telah mengidentifikasi antigen rekombinan (BmR1) yang bersifat spesifik dan sensitif dalam mendeteksi antibody terhadap B. IgG4 malayi dan B. timori dalam ELISA dan cepat Dipstick immunochromatographic (Brugia Rapid) uji. Namun, tampaknya immunoreactivity bahwa untuk antigen ini adalah variabel pada orang yang terinfeksi nematoda filarial lainnya. Penelitian ini telah menyebabkan perkembangan dua baru cepat immunochromatographic IgG4 kaset tes-WB cepat dan panLF cepat-yangmendeteksi Filariasis bancroftian dan semua tiga spesies filariasis limfatik, masing-masing, dengan sensitivitas yang tinggi dan selektivitas.
4. Epidemiologi
B. malayi menginfeksi 13 juta orang di selatan dan Asia Tenggara dan yang bertanggung jawab untuk hampir 10% dari total kasus di dunia filariasis limfatik. Infeksi B. malayi adalah endemik atau berpotensi endemik di 16 negara, di mana ia paling umum di Cina selatan dan India, tetapi juga terjadi di Indonesia, Thailand, Vietnam, Malaysia, Filipina, dan Korea Selatan. Penyebaran B. malayi tumpang tindih dengan W. bancrofti di wilayah ini, tetapi tidak hidup berdampingan dengan B. timori. Daerah fokus dari endemisitas ditentukan sebagian oleh vektor nyamuk.
2.2.3 Brugia timori
a.       Hospes definitif                            : Manusia
b.      Hospes perantara/vektor            : Nyamuk(Anopheles barbirostris)
c.       Habitat                                         : - Cacing dewasa :Saluran
dan kelenjar limfe
                                          - Mikrofilaria :Darah dan
                                          limfe
d.   Penyakit                                       : Brugiasis timori, filariasis
timori, kaki gajah tipe
timori
      e.   Distribusi geografik                     : Indonesia bagian Timur
(Pulau Timor,Flores, Rote
dan Alor)











1. Morfologi
o   Cacing dewasa : bentuk seperti benang  berwarna putih susu
o   Cacing jantan : (13 – 23) x 0,08 mmekor melengkung ke ventral, mempunyai 2 spikulum
o   Cacing betina : (21 – 39) x 0,1 mm
                                                ekor lurus
2. Mikrofilaria : - (280 – 310) x 7 µm
                                                - berselubung
                                                    - cephalic space, p : l  = 3 : 1
                                         - inti padat, sampai ke ujung ekor
                                          - ekor mempunyai 2 inti tambahan

Periodisitas mikrofilaria : Periodik nokturna
 Daur hidup, Patologi dan gejala klinis,
Diagnosis, Terapi, Prognosis dan Pencegahan sama dengan Brugia malayi
2.2.4 Loa-loa
Loa-loa salah satu jenis cacing kelas nematoda jaringan yang suka banget nyempil di lapisan konjugtiva mata (itulah lapisan yang being-bening). Infeksi Loa-loa dinamakan Loaiasis, pertama kali terjadi pada tahun 1770 pada seorang wanita negro di Santo Domingo, Hindia Barat. Cacing dewasa Loa loa merupakan nematoda jaringan yang bersifat parasit, sekitar 90% menyerang manusia dan sisanya menyerang kuda nil, binatang pemamah biak yang hidup liar, tikus dan kadal. Walaupun Indonesia bukan daerah endemik (daerah penyebaran) penyakit ini, kita juga perlu memiliki pengetahuan tentang berbagai macam parasit yang bisa menyerang manusia sehingga kita dapat menganalisisnya bila penyakit tersebut suatu saat kita temui.
Adapun vektor dari Loa-loa adalah jenis lalat dari genus Tabanus. Ada dua jenis vektor yang menonjol dari genus Chrysops yakni C. silicea dan C. dimidiata. Spesies hanya terdapat di Afrika dan sering dikenal dengan deerflies atau mangroveflies. Chrysops spp merupakan lalat yang berukuran kecil, panjangnya 5-20 mm, dengan ukuran kepala besar dan betuk mulut yang condong ke bawah. Sayapnya polos atau berbintik cokelat. Mereka merupakan penghisap darah dan biasanya hidup di daerah hutan tropis dan habitat berlumpur seperti, rawa-rawa, sungai, dan waduk. Gigitan lalat Chrysops sangat menyakitkan, dan dapat mengakibatkan bekas gigitan yang lebih parah dari gigitan lalat biasa.
Kingdom : Animalia
Filum : Nematoda
Kelas : Secernentea
Ordo : Spirurida
Famili : Filariidae
Genus : Loa
Spesies : Loa loa

                        1. Sejarah
·         Kasus pertama infeksi Loa loa tercatat di Karibia (Santo Domingo) pada tahun 1770. Seorang ahli bedah Prancis bernama Mongin mencoba tetapi gagal untuk menghapus cacing yang lewat di mata seorang wanita. Beberapa tahun kemudian, pada 1778, ahli bedah Guyot Francois dapat melakukan pembedahan pada cacing di mata seorang budak dari Afrika Barat pada kapal Prancis ke Amerika.
·         Identifikasi microfilaria dibuat pada tahun 1890 oleh Stephen dokter mata McKenzie. Sebuah presentasi klinis umum loiasis, yang diamati pada tahun 1895 di pesisir kota Nigeria maka terciptalah nama Calabar swelling.
·         Pengamatan ini dibuat oleh seorang dokter mata Skotlandia bernama Douglas Argyll-Robertson, tetapi hubungan antara Loa loa dan Calabar swelling tidak disadari sampai tahun 1910 (oleh Dr Patrick Manson). Penentuan vektor lalat Chrysops diketahui pada tahun 1912 oleh British parasitologist Robert Thompson Leiper.
·         Nama Penyakit : Loa loa filariasis, loaiasis, Calabar swelling(Fugitiveswelling), Tropical swelling dan Afrika eyeworm
·         HP: Lalat Crysops silaceae dan C dimidiata
·         Daya hidup: 4-17 tahun
·         Distribusi: terbatas pada hutan dan tepi hutan di daerah katulistiwa afrika yang sering hujan


http://crocodilusdaratensis.files.wordpress.com/2010/10/6.jpg?w=500
 










2. Morfologi
1.      Cacing dewasa hidup dalam jaringan sub kutan,
2.      betina berukuran 50-70 mm x 0,5 mm
3.      jantan 30-34 mm x 0,35-0,43 mm. Cacing
4.      Cacing betina mengeluarkan mikrofilaria yang beredar dalam darah pada siang hari (diurna).
5.      Pada malam hari mikrofilaria berada dalam pembuluh darah paru-paru.
3. Siklus Hidup Loa-loa
Parasit ini ditularkan oleh lalat Chrysops. Mikrofilaria yang beredar dalam darah diisap oleh lalat dan setelah kurang lebih 10 hari di dalam badan serangga, mikrofilaria tumbuh menjadi larva infektif dan siap ditularkan kepada hospes lainnya. Cacing dewasa tumbuh dalam badan manusia dan dalam waktu 1  sampai 4 minggu mulai berkopulasi dan cacing betina dewasa mengeluarkan mikrofilarianya.
 



















4. Patologis









Gejalanya khas dengan terbentuknya pembengkakan calabar swelling di sekitar sendi, lengan atas yang dapat menjadi sebesar telur ayam. Pembengkakan sering kali didahului oleh rasa gatal dan sakit yang terlokalisasi. Gejala ini disebabkan reaksi alergi terhadap cacing dewasa yang bermigrasi ke jaringan subkutan; timbul setelah tiga minggu. Pembengkakan akan berakhir dalam beberapa hari atau seminggu dan berkurang secara perlahan-lahan sebagai manifestasi supersensitif hospes terhadap parasit.
Migrasinya ke jaringan subkonjungtiva menyebabkan gejala iritis, mata sembab, saikit, pelupuk mata menjadi bengkak hingga mengganggu penglihatan, tetapi tidak sampai menimbulkan kebutaan. Aktifitas cacing tampak/dapat dilihat di jaringan subkonjungtiva, sedangkan mikrofilarianya tidak menimbulkan dampak yang serius, hanya ditakutkan timbulnya ensefalitis bila cacing masuk ke otak. Ketika cacing dewasa berpindah melintasi jaringan subkutan dan juga hidung, akan menyebabkan rasa sakit, serta mengalamai Eosinofilia.
Eosinofilia adalah gejala lain yang merupakan karakteristik dari Loa-loa. Eosinofilia bukan merupakan suatu penyakit, tetapi merupakan respon terhadap suatu penyakit. Peningkatan jumlah eosinofil dalam darah biasanya menunjukkan respon yang tepat terhadap sel-sel abnormal, parasit, atau bahan-bahan penyebab reaksi alergi (alergen).
Jika suatu bahan asing masuk ke dalam tubuh, akan terdeteksi oleh limfosit dan neutrofil, yang akan melepaskan bahan untuk menarik eosinofil ke daerah ini.Eosinofil kemudian melepaskan bahan racun yang dapat membunuh parasit dan menghancurkan sel-sel yang abnormal. 50-70% eosinofilia acap kali ditemukan pada orang yang terinfeksi Loa-loa, terutama bila terjadi pembengkakan.Indikator lain adalah peningkatan jumlah serum IgE, peningkatan antibodi antifilaria, tetapi orang yang terinfeksi kadang-kadang asimtomatik. Mikrofilaremia tidak selalu muncul.
5. Komplikasi
Cacing dewasa yang merusak pembuluh limfe serta mekanisme inflamasi dari tubuh penderita yang mengakibatkan proliferasi jaringan ikat di sekitar pembuluh. Respon inflamasi ini juga diduga sebagai penyebab granuloma dan proliferatif yang mengakibatkan obstruksi limfe secara total. Ketika cacing masih hidup, pembuluh limfe akan tetap paten, namun ketika cacing sudah mati akan terjadi reaksi yang memicu timbulnya granuloma dan fibrosis sekitar limfe.
Kemudian akan terjadi obstruksi limfe total karena karakteristik pembuluh limfe bukanlah membentuk kolateral (seperti pembuluh darah), namun akan terjadi malfungsi drainase limfe di daerah tersebut.
6. Gejala klinis
1.      Menimbulkan gangguan di  konjungtiva mata dan pangkal hidung dengan menimbulkan:
·         iritasi pada mata,
·         mata sendat, sakit,
·         pelupuk mata menjadi bengkak.
2.   Pembengkakan jaringan yang  tidak sakit
3.   Ensefalitis
7.  Distribusi geografis
Distribusi geografis loaiasis manusia terbatas pada hutan hujan dan rawa kawasan hutan Afrika Barat, terutama di Kamerun dan di Sungai Ogowe. Manusia adalah satu-satunya reservoir alami. Diperkirakan 12-13 juta manusia terinfeksi larva Loa loa.
8. Diagnosis
http://crocodilusdaratensis.files.wordpress.com/2010/10/12.jpg?w=500Diagnosis dibuat dengan menemukan mikrofilaria di dalam darah yang diambil pada waktu siang hari atau menemukan cacing dewasa di konjungtiva mata ataupun dalam jaringan subkutan.



9. Pengobatan dan Pencegahan
·         Penggunaan dietilkarbamasin (DEC) dosis 2 mg/kgBB/hari, 3 x sehari selama 14 hari
·         Pembedahan pada mata
·         Menghindari gigitan Lalat
·         Pemberian obt-obatan 2 bln sekali
·         Jangan sering-sering masuk hutan.
2.2.5 Onchocerca volvulus  
Onchocerciasis (river blindness) adalah infeksi oleh cacing gelang Onchocerca volvulus. Hal ini menyebabkan rasa gatal, ruam, kadangkala disertai luka gores, sama seperti gejala-gejala mata yang membuat kebutaan.
Di seluruh dunia, sekitar 18 juta orang memiliki Onchocerciasis. Sekitar 270.000 nya menjadi buta, dan 500.000 mengalami gangguan penglihatan. Onchocerciasis adalah penyebab nomor dua pada kebutaan. Onchocerciasis paling umum di daerah tropis dan daerah selatan Afrika (sub-sahara). Kadangkala terjadi di Yaman, Meksiko Selatan, Guatemala, Ekuador, Kolombia, Venezuela, dan Brazil (sepanjang Amazon).


















1. Penyebab
Onchocerciasis menyebar melalui gigitan lalat hitam betina yang berkembang biak di sungai yang beraliran cepat (oleh sebab itu, disebut kebutaan sungai). Siklus infeksi dimulai ketika lalat hitam menggigit orang yang terinfeksi dan terinfeksi dengan bentuk prelarva pada cacing yang disebut microfilarie. Mereka berkembang ke menjadi larva pada lalat. Ketika lalat menggigit orang lain, larva masuk ke dalam kulit orang tersebut. larva tersebut bergerak di bawah kulit dan membentuk gumpalan (bongkol kecil-kecil), ketika mereka terbentuk di dalam cacing dewasa dalam 12 sampai 18 bulan. Cacing betina dewasa bisa hidup sampai 15 tahun di dalam nodules ini. Setelah kawin, cacing betina dewasa menghasilkan 1.000 microfilariae setiap hari. Ribuan microfilariae bergerak melalui jaringan pada kulit dan mata dan bertanggungjawab atas penyakit tersebut.
Biasanya, beberapa gigitan diperlukan sebelum infeksi menyebabkan gejala-gejala.
Dengan begitu, infeksi tersebut sangat mungkin terjadi pada pengunjung pada daerah yang terinfeksi. Karena infeksi ditularkan di dekat sungai, kebanyakan orang menghindari daerah tersebut. Tidak dapat hidup atau bekerja di sekitar sungai yang mempengaruhi kemampuan mereka untuk menaikkan hasil nafkah. Oleh karena itu, onchocerciasis bisa mengakibatkan kekurangan makanan di beberapa daerah.
2. Gejala
Gejala-gejala terjadi ketika microfilariae mati. Kematian mereka bisa menyebabkan rasa gatal sekali, yang kemungkinan satu-satunya gejala. Ruam dengan kemerahan bisa terjadi. Dengan berjalannya waktu, kulit bisa menebal, kasar dan berkerut. Hal ini bisa menghilangkan pigmen pada daerah bintik mata. Kelenjar getah bening, termasuk daerah kelamin, bisa menjadi meradang dan bengkak. Nodules mengandung cacing dewasa kemungkinan bisa dilihat atau diraba di bawah kulit.
Mempengaruhi jarak penglihatan dari sedikit lemah (buram) sampai kebutaan total. Mata bisa menjadi meradang dan terlihat merah. Terkena sinar matahari yang terang bisa menyebabkan rasa sakit. Tanpa pengobatan, kornea bisa menjadi buram secara total dan bisa tergores-penyebab kebutaan. Struktur lain pada mata, termasuk iris, pupil, dan retina, kemungkinan terkena. Syaraf optik bisa menjadi meradang dan mati. Kebutaan dapat mengakibatkan penurunan rentang hidup.
3. Diagnosa
Biasanya, contoh kulit dipotong dan diteliti untuk microfilariae. Cara ini terasa sakit sekali. Pilihan lain adalah tes darah, tetapi tes ini tidak selalu dapat diandalkan atau tersedia. Microfilariae bisa juga terlihat pada mata dengan menggunakan lampu celah. Nodules bisa diangkat dan diperiksa untuk cacing dewasa, tetapi proses ini jarang diperlukan.
4. Pengobatan
Untuk pengobatan, ivermectin diberikan sebagai dosis tunggal melalui mulut dan diulang setiap 6 sampai 12 bulan sampai gejala-gejalanya hilang. Ivermectin membunuh microfilariae, mengurangi jumlah microfilariae pada kulit dan mata, dan mengurangi produksi microfilariae untuk beberapa bulan. Hal itu sepertinya tidak membunuh cacing dewasa. Efek samping biasanya ringan. Dahulu, nodules diangkat dengan cara operasi, tetapi pengobatan ini telah digantikan dengan ivermectin.


5. Pencegahan
Secara teori, menghindari daerah yang terinfeksi lalat, menggunakan baju pelindung, dan secara bebas menggunakan penolak serangga bisa membantu mengurangi resiko infeksi. Ivermectin diberikan sekali atau dua kali setahun secara dramatis mengurangi jumlah microfilariae, mencegah perkembangan penyakit lebih lanjut, dan membantu mengendalikan infeksi pada orang yang seringkali terkena.
2.2.6 Trichinella spiralis (Cacing Otot)
Hewan dari anggota hewan tak bertulang belakang yang termasuk dalam filumNematoda. [1] Cacing ini menyebabkan penyakit trichinosis pada manusia, babi, atau tikus. Parasit masuk ke tubuh manusia melalui daging babi yang dimasak kurang matang. Di dalam usus manusia, larva berkembang menjadi cacing muda. Cacing muda bergerak ke otot melalui pembuluh limfa atau darah dan selanjutnya menjadi cacing dewasa. Untuk mencegah terinfeksi oleh cacing ini, daging harus dimasak sampai matang untuk mematikan cacing muda.
1.Morfologi
Cacing dewasa sangat halus menyerupai rambut, ujung anterior langsing, mulut kecil, dan bulat tanpa papel. Cacing jantan panjangnya 1,4-1,6 mm, ujung posteriornya melengkung ke ventral dan mempunyai umbai berbentuk lobus, tidak mempunyai spikulum tepi. Dan tidak terdapat vas deferens yang bisa dikeluarkan sehingga da[at membantu kopulasi. Cacing betina panjangnya 3-4 mm, posteriornya membulat dan tumpul.
Cacing betina tidak mengeluarkan telur, tetapi mengeluarkan larva (larvipar). Seekor cacing betina mengeluarkan larva sampai 1500 buah. Panjang larva yang baru dikeluarkan kurang lebih 80-120 mikron, bagian anterior runcing dan ujungnya menyerupai tombak.

2. Siklus Hidup

Siklus hidup alami yang terjadi antara babi dan tikus -> babi mengandung kista yang infektif -> manusia terinfeksi olh karena makan daging babi atau mamamlia lain yang mengandung kista -> cacing dewasa hidup di dalam dinding usus -> larva membentuk kista di dalam otot bergaris.

3. Patologi dan Gejala Klinis

Gejala Trikinosis tergantung pada beratnya infeksi disebabkan oleh cacing stadium dewasa dan stadium larva. Pada saat cacing dewasa mengadakan invasi ke mukosa usus, timbul gejal usus sepertiskit perut diare, mual dan muntah. Masa tunas gejala usus ini kira-kira 1-2 hari sesudah infeksi.Larva tersebar di otot kira-kira 7-28 hari sesudah infeksi. Pada saat ini timbul gejal nyeri otot (mialgia) dan randang otot (miositis) yang disertai demem, eusinofilia dan hipereosinofilia.

Gejala yang disebakan oleh stadium larva tergantung juga pada alat yang dihinggapi misalnya, dapat menyebabkan sembab sekitar mata, sakit persendian, gejala pernafasan dan kelemahan umum. Dapat juga menyebabkan gejala akibat kelainan jantung dan susunan saraf pusat bila larva T.spiralis tersebar di alat-alat tersebut. Bila masa akut telah lalu, biasanya penderita sembuh secara perlahan-lahan bersamaan dengan dibentuknya kista dalam otot.

Pada infeksi berat (kira-kira 5.000 ekor larva/kg berat badan) penderita mungkin meninggal dalam waktu 2-3 minggu, tetapi biasanya kematian terjadi dalam waktu 4-8 minggu sebagai akibat kelainan paru, kelainan otak, atau kelainan jantung.
4. Epideologi

Cacing ini tersebar di seluruh dunia (kosmopolit), kecuali di kepulauan Pasifik dan Australia. Frekuensi trikinosis pada manusia ditentukan oleh temuan larva dalam kista di mayat atau melalui tes intrakutan. Frekuensi ini banyak ditemukan di negara yang penduduknya gemar makan daging babi. Di daerah tropis dan subtropis frekuensi trikinosis sedikit.
Infeksi pada manusia tergantung pada hilang atau tidak hilangnya penyakit ini dari babi. Larva dapat dimatikan pada suhu 60-70 derajat celcius, larva tidak mati pada daging yang diasap dan diasin.
            2.2.7 Mansonella ozzardi
Mansonella ozzardi adalah parasit dalam filum Nematoda dari. Ini nematoda filaria merupakan satu dari dua yang menyebabkan filariasis rongga serosa pada manusia.
Nematoda filaria lain yang menyebabkan filariasis rongga serosa pada manusia perstans Mansonella. Mansonella ozzardi merupakan endoparasit yang mendiami rongga serosa dari perut di host manusia. Ia hidup di dalam polip, peritoneum, dan dalam jaringan subkutan.
                        1. Taksonomi
MansonellaScientific classification Kingdom: Animalia Phylum: Nematoda Class: Secernentea Order: Spirurida Family: Onchocercidae Genus: Mansonella Species: ozzardi
2. Morfologi
Seperti nematoda lain, Mansonella ozzardi adalah cacing silinder dan bilateral simetris. Ini adalah organisme dengan pseudocoel, atau rongga tubuh palsu. Bagian luar parasit disebut kutikula. Kutikula adalah lapisan pelindung yang dapat menahan lingkungan yang keras di saluran pencernaan dari host manusia.
M. ozzardi dan nematoda lainnya memiliki otot memanjang yang berjalan di sepanjang dinding tubuh. Mereka juga memiliki tali saraf dorsal, ventral, dan longitudinal terhubung ke otot-otot longitudinal. Pada tahap dewasa Mansonella ozzardi, betina lebih besar dari laki-laki.

3.Reproduksi
Ini adalah spesies dioecious. Hal ini diyakini bahwa betina melepaskan feromon untuk menarik laki-laki (Sebelum 2003). Laki-laki yang menemukan kumparan kehendak perempuan di sekitar perempuan lebih pori kelamin. Laki-laki ini memiliki spikula yang digunakan untuk menahan perempuan selama kopulasi. Hewan betina Ovoviviparous. Sperma dari nematoda tidak memiliki flagela a. Motilitas adalah karena amoeboid-jenis selnya.


4. Siklus hidup
















·         Arthropoda (lalat hitam atau nyamuk menggigit) akan mengambil makan darah dari manusia dan akan memasukkan ketiga tahap larva filaria ke dalam host manusia.
·         Larva akan menjadi dewasa dan akan mendiami jaringan subkutan.
·         Orang-orang dewasa akan kawin dan menghasilkan mikrofilaria terhunus. Mikrofilaria ini akan masuk ke aliran darah.
·         Sebuah arthropoda tidak akan mengambil makan darah dari manusia yang terinfeksi dan menelan mikrofilaria tersebut.
·         Pada arthropoda tersebut, mikrofilaria akan perjalanan dari midgut ke otot dada.
·         Pada otot dada, mikrofilaria akan berkembang menjadi larva tahap pertama.
·         Kemudian, mikrofilaria akan lebih berkembang menjadi larva stadium ketiga.
·          Larva tahap ketiga akan melakukan perjalanan dari otot dada ke belalai yang arthropoda ini. Ini adalah tahap di mana arthropoda dapat menginfeksi manusia ketika mengambil makan darah.
2.2.8 Dracunculus medinensis
Dracunculus medinensis atau cacing Madinah (dulu endemik dikota Madinah, sekarang dinyatakan sudah musnah dari sana oleh WHO) merupakan parasit pada manusia dan mamalia di Asia dan Afrika. Larvanya terdapat pada tubuh Cyclops sp. diperairan tawar.
1. Taksonomi
Kingdom: Animalia
Phylum: Nemathelminthes
Class: Nematoda
Order: Camallanidae
Superfamily: Dracunculoidea
Family: Dracunculidae
Genus: Dracunculus
Species: D. Medinensis

2. Morfologi
Cacing ini berbentuk silindris dan memanjang  seprti benang. Permukaan tubuh berwarna  putih susu dengan kutikula yang halus. Ujung anterior berbentuk bulat tumpul sedangkan  ujung posterior melengkung membentuk kait. Memiliki mulut yang kecil dan ujung anteriornya  dikelilingi paling sedikit 10 papila. Cacing jantan panjangnya 12-40 mm dan lebarnya 0,4 mm Cacing betina panjangnya 120 cm dan lebarnya1-2 mm.
3. Nama Penyakit
Dracunculiasis adalah infeksi yang disebabkan oleh cacing gelang Dracunculus medinensis. Yang menyebabkan rasa sakit, luka kulit meradang dan radang sendi yang melemahkan.  Infeksi tersebut terjadi sebagian besar pada jalur sempit melintasi beberapa negara di daerah Afrika Selatan dan di Yaman dan hanya berlangsung pada musim tertentu.
4. Siklus hidup
Bila manusia meminum air mentah mengandung cyclops yang telah terinfeksi oleh larva cacing ini  menetas lalu menembus dinding usus menuju jaringan bawah kulit, jantung atau otak. Setahun kemudian, cacing yang telah dewasa akan bereproduksi dan bergerak menuju permukaan kulit (umumnya tangan atau kaki), jantan akan mati setelah 3-7 bulan setelah infeksi. Betina yang akan bereproduksi akan menimbulkan bercak merah yang terasa sangat panas lalu menimbulkan luka terbuka pada anggota badan tersebut.
Pada saat bagian tubuh yang terluka itu direndam air (untuk mengurangi rasa panas yang ditimbulkan)  cacing betina dewasa akan keluar (dapat dilihat dengan mata) dari luka tersebut dan melepaskan larva muda   kemudian larva muda mencari Cyclops dan siklus kembali terulang.  setelah proses ini terselesaikan, betina akan mati, apabila tidak dapat keluar dari tubuh maka cacing tersebut akan terkristalisasi didalam tubuh inangnya. Luka terbuka yang diakibatkan oleh penetrasi cacing ini memiliki potansi yang besar terkena infeksi bakteri sekunder (bakteri tetanus,bakteri pemakan daging dsb) apabila tidak diobati secara tepat.
5. Penyebab
Orang menjadi terinfeksi dengan meminum air yang mengandung semacam binatang air yang terinfeksi berkulit keras yang kecil, yang selanjutnya menjadi hunian untuk cacing tersebut. setelah penyerapan, crustacean mati dan melepaskan larva, yang menembus dinding usus. Larva matang menjadi cacing dewasa sekitar 1 tahun. Setelah dewasa, cacing betina bergerak melalui jaringan di bawah kulit, biasanya menuju kaki. Di sana, mereka membuat bukaan pada kulit sehingga ketika mereka melepaskan larva, larva tersebut bisa meninggalkan tubuh, masuk ke air, dan menemukan hunian crustacean. Jika larva tidak mencapai kulit, mereka mati dan hancur atau mengeras (calcify) di bawah kulit.
6. Gejala
Gejala-gejala diawali ketika cacing tersebut menembus kulit. Sebuah lepuhan terbentuk pada bukaan. Daerah di sekitar lepuhan gatal, terbakar, dan meradang-bengkak, merah, dan menyakitkan. Material yang dilepaskan cacing tersebut bisa menyebabkan reaksi alergi, yang bisa mengakibatkan kesulitan bernafas, muntah, dan ruam yang gatal. Gejala-gejala reda dan lepuhan tersebut sembuh setelah cacing dewasa meninggalkan tubuh. pada sekitar 50% orang, infeksi bakteri terjadi di sekitar bukaan karena cacing tersebut. Kadangkala persendian dan tendon di sekitar lepuhan rusak.
7. Diagnosa
Diagnosa adalah jelas ketika cacing dewasa tampak pada lepuhan. Sinar X kemungkinan dilakukan untuk menentukan klasifikasi cacing.  Dapat dibuat bila terdapat garis linier berliku-liku pada permukaan kulit dan ditemukannyan papula atau vesikula pada salah satu ujung gris tersebut serta munculnya prodromal atau sistemik.
8. Pengobatan
Biasanya, cacing dewasa pelan-pelan diangkat lebih dari sehari sampai seminggu dengan memutarnya pada sebuah batang. Cacing tersebut bisa diangkat dengan cara operasi setelah bius lokal digunakan, tetapi pada banyak daerah, metode ini tidak tersedia. Orang yang juga mengalami infeksi bakteri kadangkala diberikan metronidazole untuk mengurangi peradangan.
9. Pencegahan
1. Penyaringan air minum melalui kain katun tipis.
2. merebus air hingga mendidih sebelum  digunakan.
3. dan hanya meminum air berklorin membantu mencegah dracunculiasis.




2.3 Pengertian Malaria
Istilah malaria ini diperkenalkan oleh dr. Francisco torti pada abad ke-17. Dalam perkataan itali malaria bermaksud udara kotor. Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh protozoa yang disebut plasmodium, yang dalam salah satu tahap perkembang biakannya akan memasuki dan menghancurkan sel-sel darah merah. Plasmodium yang menyebarkan penyakit malaria berasal dari spesies plasmodium falciparum dan plasmodium vivax, plasmodium ovale, plasmodium malariae, dan plasmodium knowlesi.
Vektor yang berperan dalam penularan penyakit ini adalah nyamuk anopheles, terutamanya anopheles sundaicus diasia dan anopheles gambiae di afrika.
Jenis malaria yang paling ringan adalah malaria tertiana yang disebabkan oleh plasmodium vivax, dengan gejala demam yang dapat terjadi setiap dua hari sekali setelah gejala pertama terjadi (dapat terjadi selama 2 minggu setelah infeksi). Demam rimba (jungle fever), malaria aestivo-autumnal atau disebut juga malaria tropika, disebabkan oleh plasmodium falciparum merupakan penyebab sebagian besar kematian akibat malaria. Organisme bentuk ini sering menghalangi jalan darah ke otak, menyebabkan koma,mengigau serta kematian.
Malaria kuartana yang disebabkan oleh plasmodium malariae, memiliki masa inkubasi lebih lama dari pada penyakit malaria tertiana atau tropika; gejala pertama biasanya tidak terjadi antara 18-40 hari setelah infeksi terjadi. Gejala tersebut kemudian akan terulang kembali setiap 3 hari dan ini merupakan jenis malaria yang paling jarang ditemukan, disebabkan oleh plasmodium ovale dan mirip dengan malaria teriana. Pada masa inkubasi malaria, protozoa tumbuh di dalam sel hati; beberapa hari sebelum gejala pertama terjadi, kemudian organisme tersebut menyerang dan menghancurkan sel darah merah dan menyebabkan demam pada penderita.
2.3.1 Jenis Plasmodium
Ada4 jenis plasmodium yang dapat menyebabkan penyakit malaria, yaitu:
1. Plasmodium vivax, menyebabkan malaria vivax yang disebut pula sebagai malaria tertiana.
2. Plasmodium falciparum, menyebabkan malaria falciparum yang dapat pula disebut sebagai malaria tersiana.
3. Plasmodium malariae, menyebabkan malaria malariaeatau malaria kuartana karena serangan demam berulang pada tiap hari keempat.
4. Plasmodium ovale, menyebabkan malaria ovale dengan gejala mirip malari vivax. Malaria ini merupakan jenis ringan dan dapat sembuh sendiri
2.3.2 Proses Kehidupan Plasmodium
Sebagaimana makhluk hidup lainnya, plasmodium juga melakukan proses kehidupan yang meliputi:
Pertama, metabolisme (pertukaran zat). Untuk proses hidupnya, plasmodium mengambil oksigen dan zat makanan dari hemoglobin sel darah merah. Dari proses metabolisme meninggalkan sisa berupa pigmen yang terdapat dalam sitoplasma. Keberadaan pigmen ini bisa dijadikan salah satu indikator dalam identifikasi.
Kedua, pertumbuhan. Yang dimaksud dengan pertumbuhan ini adalah perubahan morfologi yang meliputi perubahan bentuk, ukuran, warna, dan sifat dari bagian-bagian sel. Perubahan ini mengakibatkan sifat morfologi dari suatu stadium parasit pada berbagai spesies, menjadi bervariasi.setiap proses membutuhkan waktu, sehingga morfologi stadium parasit yang ada pada sediaan darah dipengaruhi waktu dilakukan pengambilan darah. Ini berkaitan dengan jam siklus perkembangan stadium parasit. Akibatnya tidak ada gambar morfologi parasit yang sama pada lapang pandang atau sediaan darah yang berbeda.
Ketiga, pergerakan. Plasmodium bergerak dengan cara menyebarkan sitoplasmanya yang berbentuk kaki-kaki palsu (pseudopodia). Pada plasmodium vivax, penyebaran sitoplasma ini lebih jelas terlihat yang berupa kepingan-kepingan sitoplasma. Bentuk penyebaran ini dikenal sebagai bentuk sitoplasma amuboit (tanpa bentuk).
Keempat, berkembang biak. Berkembang biak artinya berubah dari satu atau sepasang sel menjadi beberapa sel baru.Ada dua macam perkembangbiakan sel pada plasmodium, yaitu:
1.      Pembiakan seksual.
Pembiakan ini terjadi di dalam tubuh nyamuk melalui proses sporogoni. Bila mikrogametosit (sel jantan) dan makrogametosit (sel betina) terhisap vektor bersama darah penderita, maka proses perkawinan antara kedua sel kelamin itu akan terjadi. Dari proses ini akan terbentuk zigot yang kemudian akan berubah menjadi ookinet dan selanjutnya menjadi ookista. Terakhir ookista pecah dan membentuk sporozoit yang tinggal dalam kelenjar ludah vektor.
Perubahan dari mikrogametosit dan makrogametosit sampai menjadi sporozoit di dalam kelenjar ludah vektor disebut masa tunas ekstrinsik atau siklus sporogoni. Jumlah sporokista pada setiap ookista dan lamanya siklus sporogoni, pada masing-masing spesies plasmodium adalah berbeda, yaitu: plasmodium vivax: jumlah sporozoit dalam ookista adalah 30-40 butir dan siklus sporogoni selama 8-9 hari. Plasmodium falsiparum: jumlah sporozoit dalam ookista adalah 10-12 butir dan siklus sporogoni selama 10 hari. Plasmodium malariae: jumlah sporozoit dalam ookista adalah 6-8 butir dan siklus sporogoni selama 26-28 hari.
2. Pembiakan aseksual.
Pembiakan ini terjadi di dalam tubuh manusia melalui proses sizogoni yang terjadi melalui proses pembelahan sel secara ganda. Inti troposoit dewasa membelah menjadi 2, 4, 8, dan seterusnya sampai batas tertentu tergantung pada spesies plasmodium. Bila pembelahan inti telah selesai, sitoplasma sel induk dibagi-bagi kepada setiap inti dan terjadilah sel baru yang disebut merozoit.
Kelima, reaksi terhadap rangsangan. Plasmodium memberikan reaksi terhadap rangsangan yang datang dari luar, ini sebagai upaya plasmodium untuk mempertahankan diri seandainya rangsangan itu berupa ancaman terhadap dirinya. Misalnya, plasmodium bisa membentuk sistem kekebalan (resistensi) terhadap obat anti malaria yang digunakan penderita.
Dengan adanya proses-proses pertumbuhan dan pembiakan aseksual di dalam sel darah merah manusia, maka dikenal ada tiga tingkatan (stadium) plasmodium yaitu:
a. Stadium tropozoit, plasmodium ada dalam proses pertumbuhan.
b. Stadium sizon, plasmodium ada dalam proses pembiakan.
c. Stadium gametosit, plasmodium ada dalam proses pembentukan sel kelamin.
Oleh karena dalam setiap stadium terjadi proses, maka dampaknya bagi morfologi parasit juga akan mengalami perubahan. Dengan demikian, dalam stadium-stadium itu sendiri terdapat tingkatan umur yaitu: tropozoit muda, tropozoit setengah dewasa, dan tropozoit dewasa. Sizon muda, sizon tua, dan sizon matang. Gametosit muda, gametosit tua, dan gametosit matang.
Untuk sizon berproses berawal dari sizon dewasa pecah menjadi merozoit-merozoit dan bertebaran dalam plasma darah. Merozoit kemudian menginvasi sel darah merah yang kemudian tumbuh menjadi troposoit muda berbentuk cincin atau ring form. Ring form tumbuh menjadi troposoit setengah dewasa, lalu menjadi troposoit dewasa. Selanjutnya berubah menjadi sizon muda dan sizon dewasa. Pada saat menjadi merozoit-merozoit, sizon dewasa mengalami sporulasi yaitu pecah menjadi merozoit-merozoit baru.
Di sini dapat dikatakan, proses dari sizon dewasa untuk kembali ke sizon lagi, disebut satu siklus. Lamanya siklus ini dan banyaknya merozoit dari satu sizon dewasa, tidak sama untuk tiap spesies plasmodium. Pada plasmodium falsiparum: jumlah merozoit di dalam satu sel sizon dewasa sebanyak 32 dan lama siklusnya 24 jam. Artinya reproduksi tinggi dan cepat sehingga kepadatan troposoit pada darah sangat tinggi.
Plasmodium vivax: jumlah merozoit di dalam satu sel sizon dewasa sebanyak 16 dan lama siklusnya 48 jam. Artinya reproduksi rendah dan lebih lambat, sehingga kepadatan troposoit pada darah sering rendah. Plasmodium malariae: jumlah merozoit di dalam satu sel sizon dewasa sebanyak delapan dan lama siklusnya 72 jam. Artinya reproduksi lebih rendah dan lebih lambat. Ini mungkin yang menjadi penyebab jarangnya spesies ini ditemukan.
Akhirnya, karena perbedaan proses perkembangan, maka masa tunas atau pre paten atau masa inkubasi plasmodium di dalam tubuh manusia (intrinsik) masing-masing spesies lamanya berbeda. Plasmodium falsiparum selama 9-14 hari, plasmodium vivax selama 12-17 hari, dan plasmodium malariae 18 hari.
2.3.3 Siklus Hidup Plasmodium Pada Tubuh Manusia
Ketika nyamuk anopheles betina (yang mengandung parasit malaria) menggigit manusia, akan keluar sporozoit dari kelenjar ludah nyamuk masuk ke dalam darah dan jaringan hati. Dalam siklus hidupnya parasit malaria membentuk stadium sizon jaringan dalam sel hati (stadium ekso-eritrositer). Setelah sel hati pecah, akan keluar merozoit/kriptozoit yang masuk ke eritrosit membentuk stadium sizon dalam eritrosit (stadium eritrositer). Disitu mulai bentuk troposit muda sampai sizon tua/matang sehingga eritrosit pecah dan keluar merozoit. Sebagian besar merozoit masuk kemabli ke eritrosit dan sebagian kecil membentuk gametosit jantan dan betina yang siap untuk diisap oleh nyamuk malaria betina dan melanjutkan siklus hidupnya di tubuh nyamuk (stadium sporogoni).
Didalam lambung nyamuk, terjadi perkawinan antara sel gamet jantan (mikro gamet) dan sel gamet betina (makro gamet) yang disebut zigot. Zigot berubah menjadi ookinet, kemudian masuk ke dinding lambung nyamuk berubah menjadi ookista. Setelah ookista matang kemudian pecah, keluar sporozoit yang berpindah ke kelenjar liur nyamuk dan siap untuk ditularkan ke manusia.
Khusus plasmodium vivax dan plasmodium ovale pada siklus parasitnya di jaringan hati (sizon jaringan) sebagian parasit yang berada dalam sel hati tidak melanjutkan siklusnya ke sel eritrosit, akan tetapi tertanam di jaringan hati –disebut hipnosit-. Bentuk hipnosit inilah yang menyebabkan malaria relapse. Pada penderita yang mengandung hipnosoit, apabila suatu saat dalam keadaan daya tahan tubuh menurun misalnya akibat terlalu lelah, sibuk, stress atau perubahan iklim (musim hujan), hipnosoit dalam tubuhnya akan terangsang untuk melanjutkan siklus parasit dari sel hati ke eritrosit.
Setelah eritrosit yang berparasit pecah akan timbul kembali gejala penyakit. Misalnya 1 – 2 tahun sebelumnya pernah menderita plasmodium vivax/ovale dan sembuh setelah diobati, bila kemudia mengalami kelelahan atau stress, gejala malaria akan muncul kembali sekalipun yang bersangkutan tidak digigit oleh nyamuk anopheles. Bila dilakukan pemeriksaan, akan didapati sd positif plasmodium vivax/ plasmodium ovale.
Pada plasmodium falciparum serangan dapat meluas ke berbagai organ tubuh lain dan menimbulkan kerusakan seperti di otak, ginjal, paru, hati dan jantung, yang mengakibatkan terjadinya malaria berat atau komplikasi. Plasmodium falciparum dalam jaringan yang mengandung parasit tua – bila jaringan tersebut berada di dalam otak- peristiwa ini disebut sekustrasi. Pada penderita malaria berat, sering tidak ditemukan plasmodium dalam darah tepi karena telah mengalami sekuestrasi. Meskipun angka kematian malaria serebral mencapai 20-50% hampir semua penderita yang tertolong tidak menunjukkan gejala sisa neurologis (sekuele) pada orang dewasa. Malaria pada anak kecil dapat terjadi sekuel.
2.3.4 Jenis Malaria
Penyakit ini memiliki empat jenis dan disebabkan oleh spesies parasit yang berbeda. Jenis malaria itu adalah:
1. malaria tertiana (paling ringan), yang disebabkan plasmodium vivax dengan gejala demam dapat terjadi setiap dua hari sekali setelah gejala pertama terjadi (dapat terjadi selama dua minggu setelah infeksi).
2. demam rimba (jungle fever), malaria aestivo-autumnal atau disebut juga malaria tropika, disebabkan plasmodium falciparum merupakan penyebab sebagian besar kematian akibat malaria. Organisme bentuk ini sering menghalangi jalan darah ke otak, menyebabkan koma, mengigau dan kematian.
3. malaria kuartana yang disebabkan plasmodium malariae, memiliki masa inkubasi lebih lama daripada penyakit malaria tertiana atau tropika; gejala pertama biasanya tidak terjadi antara 18 sampai 40 hari setelah infeksi terjadi. Gejala itu kemudian akan terulang lagi tiap tiga hari.
4. malaria pernisiosa, disebabkan oleh plasmodium vivax, gejala dapat timbul sangat mendadak, mirip stroke, koma disertai gejala malaria yang berat.
2.3.5 Gejala malaria
Gejala serangan malaria pada penderita yaitu:
a. Gejala klasik, biasanya ditemukan pada penderita yang berasal dari daerah non endemis malaria atau yang belum mempunyai kekebalan (immunitas); atau yang pertama kali menderita malaria. Gejala ini merupakan suatu parokisme, yang terdiri dari tiga stadium berurutan:
- Menggigil (selama 15-60 menit
- Demam (selama 2-6 jam), timbul setelah penderita mengigil, demam dengan suhu badan sekitar 37,5-40 derajad celcius, pada penderita hiper parasitemia (lebih dari 5 persen) suhu meningkat sampai lebih dari 40 derajad celcius.
- Berkeringat (selama 2-4 jam), timbul setelah demam, biasanya setelah berkeringat, penderita merasa sehat kembali.
b. Gejala malaria dalam program pemberantasan malaria:
- Demam
- Menggigil
- Berkeringat
- Dapat disertai dengan gejala lain: sakit kepala, mual dan muntah.
- Gejala khas daerah setempat: diare pada balita (di timtim), nyeri otot atau pegal-pegal pada orang dewasa (di papua), pucat dan menggigil-dingin pada orang dewasa (di yogyakarta).
c. Gejala malaria berat atau komplikasi, yaitu gejala malaria klinis ringan diatas dengan disertai salah satu gejala di bawah ini:
- Gangguan kesadaran (lebih dari 30 menit)
- Kejang, beberapa kali kejang
- Panas tinggi diikuti gangguan kesadaran
- Mata kuning dan tubuh kuning
- Perdarahan di hidung, gusi atau saluran pencernaan
- Jumlah kencing kurang (oliguri)
- Kelemahan umum (tidak bisa duduk/berdiri)
- Nafas sesak
d. Kadar darah putih, leukosit, cenderung meningkat. Jika tidak segera diobati biasanya akan timbul jaundice ringan (sakit kuning) serta pembesaran hati dan limpa.
e. Kadar gula darah rendah.
f. Jika sejumlah parasit menetap di dalam darah kadang malaria bersifat menetap. Menyebabkan penurunan nafsu makan, rasa pahit pada lidah, lemah, sertai demam.
Adapun gejala gejala malaria berdasarkan jenis malaria antara lain:
a. Gejala malaria vivax & ovale
Gejala yang terlihat sangat samar; berupa demam ringan yang tidak menetap, keringat dingin, dan berlangsung selama 1 minggu membentuk pola yang khas. Biasanya demam akan terjadi antara 1 – 8 jam. Setelah demam reda, pengidap malaria ini merasa sehat sampai gejala susulan kembali terjadi. Gejala jenis malaria ini cenderung terjadi setiap 48 jam.
b. Gejala malaria falciparum
Gejala awal adalah demam tinggi, suhu tubuh naik secara bertahap kemudian tiba-tiba turun. Serangan bisa berlangsung selama 20 – 36 jam, dan penderita mengalami sakit kepala hebat. Setelah gejala utama mereda, pengidap akan merasa tidak nyaman.
c. Gejala malaria malariae (kuartana)
Suatu serangan seringkali dimulai secara samar-samar. Serangannya menyerupai malaria vivax, dengan selang waktu setiap 72 jam.
2.3.6 Pengobatan Malaria
Tujuan pengobatan malaria adalah menyembuhkan penderita, mencegah kematian, mengurangi kesakitan, mencegah komplikasi dan relaps, serta mengurangi kerugian sosial ekonomi (akibat malaria). Tentunya, obat yang ideal adalah yang memenuhi syarat:
-Membunuh semua stadium dan jenis parasit
-Menyembuhkan infeksi akut, kronis dan relaps
-Toksisitas dan efek samping sedikit
-Mudah cara pemberiannya
-Harga murah dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat
Sayangnya, dalam pengobatan didapatkan hambatan operasional dan teknis.
Hambatan operasioanal itu adalah:
- Produksi obat, penggunaan obat-obatan dengan kualitas kurang baik, bahkan obat palsu.
- Distribusi obat tidak sesuai dengan kebutuhan atas indikasi kasus dipuskesmas.
- Kualitas tenaga kesehatan, pemberian obat tidak sesuai dengan dosis trandar yang telah ditetapkan.
- Kesadaran penderita, penderita tidak minum obat sesuai dengan dosis yang dianjurkan (misal, klorokuin untuk tiga hari, hanya diminum satu hari saja)
sementara itu, hambatan teknisnya adalah gagal obat atau resistensi terhadap obat.
Obat yang ideal yaitu:
- Membunuh semua stadium dan jenis parasit
- Menyembuhkan infeksi akut, kronis dan relaps
- Toksisitas dan efek samping sedikit
- Mudah cara pemberiannya
- Harga murah dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat
Sedangkan hambatan operasional dalam pengobatan adalah:
- Produksi obat, penggunaan obat-obatan dengan kualitas kurang baik, bahkan obat palsu.
- Distribusi obat tidak sesuai dengan kebutuhan atas indikasi kasus di puskesmas.
- Kualitas tenaga kesehatan, pemberian obat tidak sesuai dengan dosis trandar yang telah ditetapkan.
- Kesadaran penderita, penderita tidak minum obat sesuai dengan dosis yang dianjurkan (misal klorokuin untuk 3 hari, hanya diminum 1 hari saja).
Adabeberapa jenis obat yang dikenal umum yang dapat digunakan dalam pengobatan penyakit malaria, antara lain:
1. Klorokuin
2. Primakuin
3. Kina
4. Sulfadoksin pirimetamin (sp)
5. Sambiloto
6. Pulai
7. Johar
8. Bratawali
9. Vaksin
2.3.7 Pencegahan Malaria
Menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal merupakan salah satu langkah yang penting untuk mencegah gigitan nyamuk yang aktif di malam hari ini. Keberhasilan langkah ini sangat ditentukan oleh kesadaran masyarakat setempat. Pencegahan tanpa obat, yaitu dengan menghindari gigitan nyamuk dapat dilakukan dengan cara :
1. Menggunakan kelambu (bed net) pada waktu tidur, lebih baik lagi dengan kelambu berinsektisida.
2. Mengolesi badan dengan obat anti gigitan nyamuk (repellent).
3. Menggunakan pembasmi nyamuk, baik bakar, semprot maupun lainnya.
4. Memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi.
5. Letak tempat tinggal diusahakan jauh dari kandang ternak.
6. Mencegah penderita malaria dan gigitan nyamuk agar infeksi tidak menyebar.
7. Membersihkan tempat hinggap/istirahat nyamuk dan memberantas sarang nyamuk.
8. Hindari keadaan rumah yang lembab, gelap, kotor dan pakaian yang bergantungan serta genangan air.
9. Membunuh jentik nyamuk dengan menyemprotkan obat anti larva (bubuk abate) pada genangan air atau menebarkan ikan atau hewan (cyclops) pemakan jentik.
10. Melestarikan hutan bakau agar nyamuk tidak berkembang biak di rawa payau sepanjang pantai.


























BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Ø  Nematoda Darah/Jaringan Tubuh Manusia dan Hewan
Nematoda darah atau dikenal sebagai Nematoda filaria, menyebabkan penyakit kaki gajah atau elefantiasis/filariasis.
Ø  Jenis-jenis nematoda jaringan, antara lain :
o   Wuchereria bancrofti 
o   Brugia Malayi
o   Brugia timori
o   Loa-loa
o   Onchocerca volvulus  
o   Trichinella spiralis
o   Mansonella ozzardi
Ø  Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh protozoa yang disebut plasmodium, yang dalam salah satu tahap perkembang biakannya akan memasuki dan menghancurkan sel-sel darah merah. Plasmodium yang menyebarkan penyakit malaria berasal dari spesies plasmodium falciparum dan plasmodium vivax, plasmodium ovale, plasmodium malariae, dan plasmodium knowlesi.
3.1 Saran
Dalam pembuatan makalah ini tentu jauh dari sempurna. Untuk itu,  kami mengharapkan kritik serta saran dari pembaca demi perbaikan di masa yang akan datang.




DAFTAR PUSTAKA
Prianto L.A, Juni 1994. Atlas Parasitologi Kedokteran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Prabowo, Arlan. 2000. Malaria: Mencegah dan Mengatasi, Penerbit Niaga Swadaya




 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar